SMP NEGERI 4 BANYUWANGI

JL.LETKOL ISTIQLAH - BANYUWANGI

PENGUMUMAN KELULUSAN 2013

SMP NEGERI 4 BANYUWANGI LULUS 100%

INGIN TAHU DAFTAR NILAI DATANG KE SEKOLAH

HARI SENIN, 3 JUNI 2013 PUKUL.07.00 WIB

BERSERAGAM LENGKAP DAN MENYELESAIKAN ADMINISTRASI SEKOLAH

 

STUDI PEMANFAATAN EDUKASINET DI SEKOLA

STUDI PEMANFAATAN EDUKASINET DI SEKOLAH

oleh:

Ade Koesnpenggunar, Uwes A Chaeruman, dan Ika Kurniawati

 

Abstrak

Internet mempunyai potensi yang besar dalam pembelajaran, baik sebagai sumber belajar, media, maupun pendukung pengelolaan proses belajar mengajar. Berdasarkan asumsi tersebut, Pustekkom telah mengembangkan sebuah portal bahan belajar yang diberi nama EdukasiNet. Portal ini berisi bahan belajar, forum diskusi komunitas pendidikan, serta  web sekolah.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan EduksiNet, telah dilakukan penelitian pengembangan terhadap sekolah-sekolah rintisan pada 18 sekolah di 16 lokasi kabupaten/kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada sekolah-sekolah rintisan tersebut, telah diberikan pelatihan orientasi pemanfaatan EdukasiNet. Pelatihan orientasi diberikan kepada kepala sekolah, guru-guru serta tenaga lab komputer. Tujuan orientasi adalah agar mereka dapat memanfaatkan portal edukasiNet baik sebagai sumber belajar, forum diskusi, ataupun web sekolah. Beberapa bulan setelah orientasi, dilakukan studi pemanfaatan EdukasiNet di sekolah-sekolah tersebut. Studi dilaksanakan dalam  rangka menjawab pertanyaan, antara lain:  1. Bagaimana guru/siswa telah memanfaatkan EdukasiNet dalam pembelajaran? 2. Bagaimana pola pemanfaatan EdukasiNet tersebut? dan 3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet?

Responden terdiri dari 18 orang kepala sekolah, 190 orang guru, serta 136 siswa. Hasil analisis data menunjukkan guru maupun siswa belum optimal memanfaatkan EdukasiNet. Hanya 62% guru dan 45% siswa yang memanfaatkan EdukasiNet. Sedangkan frekuensi pemanfaatan dalam satu bulan ± 99% responden menjawab < 5 kali. Pola pemanfaatan EdukasiNet menggunakan strategi yang terpisah, dan ada juga yang terintegrasi. Penerapan strategi terintegrasi antara lain melalui penugasan sebesar 50%, presentasi dan diskusi 17%, dan pada saat kegiatan praktikum di laboratorium komputer sebesar  33%. Ditemukan pula beberapa kendala dalam pemanfaatan EdukasiNet antara lain fasilitas yang kurang memadai, kesulitan dalam pengaturan jadwal, serta koneksi ke internet.  

Kata Kunci:  Portal EdukasiNet, Bahan Belajar, materi pokok, modul online, uji kompetensi, pengetahuan populer, interaksi komunitas, forum, chatting, milis, info, berita, artikel, event, web sekolah.

 

 

Latar Belakang

Saat ini, dunia telah berada dalam era komunikasi instan atau dikenal pula sebagai era informasi. Era informasi ditpenggunai oleh pesatnya perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya komputer dan internet.  Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan beribu bahkan berjuta jaringan komputer (local/wide areal  network) termasuk komputer pribadi (stand alone), yang memungkinkan setiap komputer yang terhubung kepadanya bisa saling melakukan komunikasi satu sama lain. Sebenarnya, internet awalnya lahir untuk suatu keperluan militer di Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Advanced Research Project Agency (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi nama ARPAnet untuk mendukung  keperluan penelitian (riset) kalangan militer. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset perguruan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of Utah  (Cronin, 1996). Fasilitas aplikasi Internet cukup banyak sehingga mampu memberikan dukungan bagi keperluan militer, kalangan media massa, kalangan bisnis, maupun kalangan pendidikan.

Teknologi komunikasi dan informasi yang meng-global ini telah mengubah pola kehidupan, pola belajar, dan pola kerja pada saat ini. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran, negara-negara di Asia seperti Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Thailand telah terbukti sukses memperbaiki mutu pembelajaran di tingkat pendidikan dasar sampai dengan peguruan tinggi. Bahkan, telah terbukti dapat meningkatkan persaingan ekonomi global dalam dunia internasional.

Sebagai suatu institusi yang memiliki tugas pokok merancang, mengembangkan dan membina kegiatan di bidang teknologi komunikasi dan informasi pendidikan, Pustekkom telah berusaha mengembangkan berbagai inovasi penerapan teknologi komunikasi dan informasi untuk pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang dikembangkan antara lain sebuah portal bahan belajar yang diberi nama EdukasiNet. Portal ini selain berisi bahan belajar, juga menyediakan forum diskusi sebagai wadah interaksi komunitas pendidikan, informasi pendidikan, serta web sekolah.

Dalam upaya pemanfaatan portal EdukasiNet, Pustekkom telah mengadakan penelitian pengembangan yang dimulai dari studi kelayakan untuk memilih sekolah yang memenuhi syarat untuk dijadikan sekolah perintisan. Kriteria sekolah antara lain telah memiliki sejumlah komputer yang terkoneksi ke internet, memiliki tenaga teknis komputer, serta ada dukungan dari kepala sekolah untuk memanfaatkan komputer sebagai media belajar.   Studi dilakukan pada 18 lokasi di 16 propinsi yaitu: Nangroe Aceh Darussalam, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat (2 lokasi), Jawa Tengah (2 lokasi), DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Maluku, dan Papua.

Dari 18 lokasi tersebut dipilih masing-masing satu sekolah (baik SMA, MA, maupun SMK) yang dianggap paling memenuhi syarat di kota tersebut. Selanjutnya, kepada kepala sekolah, guru, serta tenaga teknis komputer pada setiap sekolah diberikan pelatihan orientasi pemanfaatan EdkusiNet. Pada pelatihan orientasi ini, antara lain diperkenalkan potensi internet dalam pembelajaran, pemanfaatan fitur-fitur EdukasiNet, serta pengintegrasian internet dalam pembelajaran. Orientasi masing-masing diberikan sekali, yaitu 8 sekolah diberikan orientasi pada bulan Oktober  tahun 2004 dan 10 sekolah pada bulan september 2005.

Pada bulan Desember 2005, secara serempak dilakukan studi terhadap 18 sekolah tersebut. Tujuan studi, antara lain untuk menjawab pertanyaan:

1.       Bagaimana guru/siswa telah memanfaatkan EdukasiNet dalam pembelajaran?

2.       Bagaimana pola pemanfaatan EdukasiNet tersebut?

3.       Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet (baik pendukung maupun penghambat)?

Data dan informasi yang diperoleh dari lapangan diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan dalam memperbaiki dan menyempurnakan portal EdukasiNet.

 

Pemanfaatan Internet dalam Pendidikan

Dengan pertumbuhan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat, internet  telah menjadi suatu medium belajar dan mengajar yang perlu diperhitungkan kemanfaatannya. Menurut Kamarga (2002), internet merupakan jaringan yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal yang terhubung melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauannya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang telah dipergunakan dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, News groups, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).

Ada lima aplikasi stpenggunar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News groups, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW) (Onno W. Purbo, 2002). World Wide Web atau sering disebut Web merupakan kumpulan dokumentasi terbesar yang tersimpan dalam berbagai server yang terhubung menjadi suatu jaringan (internet). Dokumen ini dikembangkan dalam format hypertext dengan menggunakan Hypertext Markup Language (HTML). Melalui format ini dimungkinkan terjadinya link dari satu dokumen ke dokumen atau bagian yang lain (http://www.livinginternet.com).

Sebenarnya, internet awalnya lahir untuk suatu keperluan militer di Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Advanced Research Project Agency (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi nama ARPAnet untuk mendukung  keperluan penelitian (riset) kalangan militer. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset perguruan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of Utah  (Cronin, 1996). Fasilitas aplikasi Internet cukup banyak sehingga mampu memberikan dukungan bagi keperluan militer, kalangan media massa, kalangan bisnis, maupun kalangan pendidikan.

Dalam kaitan pemanfaatannya untuk pendidikan, Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004), menyatakan bahwa dunia pendidikan telah memasuki revolusinya yang kelima. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika diguanakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi untuk pemerataan dan perluasan pendidikan. Revolusi kelima, seperti saat ini, dengan dimanfaatkannya teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, khususnya komputer dan internet untuk pendidikan. Revolusi ini memberi dampak terhadap beberapa kecenderungan pendidikan masa depan. Beberapa ciri tersebut, menurut Ashby seperti dikutip oleh Miarso (2004) adalah sebagai berikut:

§      Berkembangnya pembelajaran di luar kampus sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan.

§      Orang memperoleh akses lebih besar dari berbagai sumber belajar.

§      Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar menjadi ciri dominant dalam kampus.

§      Bangunan kampus berserak (tersebar) dari kampus inti di pusat dengan kampus satelit yang ada di tengah masyarakat.

§      Tumbuhnya profesi baru dalam dalam bidang media dan teknologi.

§      Orang dituntut lebih banyak belajar mandiri.

Kecenderungan lain, seperti diungkapkan oleh Ryan et al (2000) adalah sebagai berikut:

§     Teknologi yang ada saat ini dapat mentransformasi cara pengetahuan dikemas, disebarkan, diakses, diperoleh dan diukur. Sehingga merubah cara produksi dan penyampaian materi dari cetak dan analog ke dalam bentuk digital dalam bentuk DVD, CD-ROM, maupun bahan belajar on-line berbasis web lainnya.

§     Orang akan lebih memilih metode belajar yang lebih luwes (flexible), mudah,  dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Sehingga memicu terjadinya pergeseran pola pendidikan dari tatap muka (konvensional) kearah pendidikan yang lebih terbuka.

Dengan adanya teknologi internet ini sistem penyampaian dan komunikasi (delivery system and communication) antara siswa dengan guru, guru dengan guru atau siswa dengan siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan cara, baik secara bersamaan (synchronous) maupun (asynchronous). Beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut (Purbo, 1997):

§         Dialog elektronik (chatting); dialog elektronik adalah percakapan berbasis teks yang dapat dilakukan secara online dalam waktu bersamaan (synchronous) antara dua atau lebih pengguna internet. Contoh aplikasi dalam konteks pendidikan tinggi, dialog elektronik dapat digunakan untuk proses komunikasi antara dosen dengan beberapa orang mahasiswanya dalam mendiskusikan suatu omin perkuliahan tertentu.

§         Surat elektronik (e-mail); surat elektronik merupakan suatu bentuk komunikasi tidak bersamaan (asynchronous) yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau mahasiswa dengan mahasiswa lain melalui surat yang disampaikan secara elektronik melalui internet. Berbeda dengan chatting, dengan cara ini umpan balik yang diperoleh mungkin tertunda.

§         Konferensi kelompok melalui surat elektronik (mailing list); Mailing list merupakan perluasan dari e-mail dimana seseorang dapat mengirim pesan kepada sekelompok orang tertentu yang telah terdaftar untuk bergabung dalam kelompok diskusi. Sebagai contoh, seorang dosen memiliki daftar mahasiswa yang tergabung dalam kelompok mata kuliah tertentu. Pemberian tugas dan diskusi dapat dilakukan melalui fasilitas seperti ini.

Konferensi jarak jauh (teleconference); konferensi jarak jauh dapat berupa konferensi audio maupun konferensi video. Kedua konferensi ini dapat dilakukan dengan cara “point to point” atau “multi point”. Cara pertama dilakukan dalam dua tempat. Sedangkan cara kedua dilakukan dalam lebih dari dua tempat. Sebagai contoh, seorang guru dari sekolah tertentu dapat mendiskusikan suatu topik tertentu kepada siswa di beberapa sekolah lain dalam waktu bersamaan.

Untuk memanfaatkan EdukasiNet sebagai media pembelajaran di sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan EdukasiNet bisa berhasil, antara lain:

§         Faktor lingkungan yang meliputi institusi penyelenggara pendidikan (dalam hal ini sekolah).

§         Siswa/peserta didik/pebelajar, meliputi usia, latar belakang sosial ekonomi dan budaya,  penguasaan bahasa maupun IT literacy, serta berbagai gaya belajar.

§         Guru/pendidik/pembelajar, meliputi latar belakang, usia, gaya mengajar, pengalaman, dan personalitinya.

§         Faktor teknologi meliputi computer, perangkat lunak, jaringan koneksi internet dan berbagai kemampuan yang dibutuhkan berkaitan dengan penerapan EdukasiNet di lingkungan sekolah.

Institusi Penyelenggara (Sekolah)

Peranan institusi penyelenggara dalam hal ini sekolah, diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan komitmen. Kebijakan atau komitmen sekolah sangat menentukan terselenggaranya pemanfaatan EdukasiNet di sekolah. Kebijakan ini terutama berkaitan dengan penggunaan teknologi tinggi yang menyangkut keharusan menyediakan sejumlah dana untuk penyediaan peralatan (komputer dan perangkatnya), jaringan telepon (koneksi ke ISP), biaya berlangganan ke internet service provider (ISP), biaya penggunaan telepon, dan sebagainya.

Siswa/Peserta Didik/Pebelajar

Usia, latar belakang baik sosial ekonomi, penguasaan bahasa maupun IT Literacy, serta gaya belajar siswa berbeda satu sama lain. Dengan adanya perbedaan ini akan mempengaruhi mereka dalam memanfaatkan EdukasiNet. Sekolah ataupun guru perlu memperhatikan karakteristik peserta didik agar pemanfaatan EdukasiNet di sekolah berhasil.

Guru

Pemanfaatan EdukasiNet banyak sangat ditentukan oleh karakteristik guru. Karena tiap guru memiliki karakteristik yang berbeda, untuk mengatasinya perlu diadakan sosialisasi dan orientasi tentang pemanfaatan program tersebut dengan memperhatikan hal-hal berikut: 1) guru perlu diberikan pemahaman tentang keuntungan dan manfaatkan menggunakan EdukasiNet untuk pembelajaran sehingga para guru memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi; 2) guru perlu dibekali dengan kesadaran, wawasan, pengetahuan dan ketrampilan tentang pemanfaatan EdukasiNet.

Teknologi

Selain ketiga faktor diatas, faktor teknologi juga merupakan faktor yang sangat menentukan pemanfaatan EdukasiNet di sekolah. Faktor teknologi merupakan faktor yang harus ada dengan memenuhi stpenggunar minimal yang dipersyaratkan baik berkaitan dengan peralatan, infrastruktur, pengoperasian dan perawatannya.     

 

Sekilas tentang EdukasiNet

EdukasiNet hadir sebagai upaya memberdayakan potensi internet untuk kebutuhan pendidikan. Lebih tepatnya, EdukasiNet hadir sebagai sebagai salah satu media jaringan sekolah (schoolnet) di Indonesia. Jaringan sekolah adalah suatu kegiatan komunitas sekolah (guru, siswa, atau tenaga pendidik dan kependidikan lain) yang dimediasi oleh internet sebagai sarana komunikasi atau bertukar informasi satu sama lain. Terjadinya pertukaran informasi yang mudah dan cepat tanpa terbatas ruang dan waktu melalui program jaringan sekolah ini memungkinkan terjadinnya komunitas masyarakat informasi (knowledge-based society) dalam lingkup sekolah. Dengan demikian, jaringan sekolah dapat dikatakan sebagai salah satu wahana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan komunitas sekolah yang pada akhirnya dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Itulah sebabnya, program jaringan sekolah menjadi salah satu program yang menjadi fokus utama UNESCO untuk diterapkan di berbagai negara di dunia. Bahkan  ke depan diharapkan terjadi jaringan sekolah yang tidak hanya terjadi dalam skala lokal (nasional), tapi dalam skala yang lebih luas, yaitu regional dan internasional. Jadi, EdukasNet adalah program jaringan sekolah yang dikembangkan oleh Pustekkom yang berfungsi sebagai 1) wahana komunikasi lintas sekolah; 2) wadah sumber belajar; dan 3) wahana berbagii informasi antar sekolah di Indonesia. Sebagai portal pendidikan, EdukasiNet dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja melalui url: http://www.e-dukasi.net. Dengan tiga peran utama tersebut, maka EdukasiNet dapat berfungsi atau dikatakan pula  sebagai jaringan sekolah (schoolnet).

Dengan demikian, EdukasiNet dapat berperan atau memilki manfaat sebagai berikut:

1.       Sebagai Sumber Bahan Belajar:

a.       guru dan siswa dapat memperoleh berbagai sumber bahan belajar yang meliputi bahan belajar yang berkaitan dengan semua mata pelajaran untuk SD, SMP dan SMA, modul online, pengetahuan populer, berita serta artikel pendidikan dengan cara mendownload atau memanfaatkannya langsung dalam kelas;

b.      siswa dapat menguji kemampuan/kompetensi semua mata pelajaran yang dipelajarinya  secara online;

c.       guru dapat memperoleh informasi  mengenai teknik dan tips dalam belajar dan membelajarkan siswa

d.      guru dapat berbagi ilmu dengan guru lain dengan cara mengirimkan karyanya berupa bahan belajar berbasis web ke administrator EdukasiNet untuk di-upload;

2.      Sebagai Sarana Komunikasi dan Kolaborasi Lintas Sekolah

§        Sekolah memperoleh ruang (space) untuk menampilkan web site sekolahnya masing-masing sebagai sub domain EdukasiNet;

§        Guru dapat berkomunikasi, berbagi ide dan pengalaman dengan sesama guru dari sekolah lain di Indonesia secara online dengan memanfaatkan fasilitas  forum guru (melalui e-mail, millist atau chatting);

§        Guru dapat mengirimkan ide, pengalaman, karya ilmiah atau berita pendidikan ke adminstrator EdukasiNet untuk dipublish dalam feature artikel dan news EdukasiNet;

§        Siswa dapat berkomunikasi, berbagi ide dan pengalaman dengan sesama siswa dari sekolah lain dengan memanfaatkan fasilitas forum siswa;

 

Fasilitas/Feature EdukasiNet

Sebagai upaya untuk memenuhi perannya sebagai jaringan sekolah, EdukasiNet dilengkapi dengan  feature seperti digambarkan dalam diagram berikut:

 

 
  Sumber Bahan Belajar (Learning Resource)

EdukasiNet menyediakan sumber belajar yang dirancang secara khusus dan dapat diakses dan atau download secara gratis. Sumber belajar ini terdiri dari materi pokok, modul online, pengetahuan populer, serta teknik dan tips mengajar.

§         Materi Pokok, yaitu bahan belajar yang meliputi semua mata pelajaran untuk SD, SMP, SMA atau yang sederajat dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

§         Modul Online ini dirancang untuk siswa dan guru SMP-SMA Terbuka dalam versi digital, sehingga mereka dapat mengambil/mencetak modul sesuai dengan kebutuhan. Namun siapapun Pengguna dapat memanfaatkan modul ini seperti mereka.

§         Pengetahuan Populer, berisikan informasi praktis yang dikemas dengan gaya yang khas dan ringan. Topik yang disajikan dipilih yang populer dan bermanfaat bagi masyarakat. 

§         Uji Kemampuan, berupa soal-soal latihan yang disusun berdasarkan stpenggunar kompetensi yang ada pada kurikulum sekolah. Di sini Pengguna (khususnya siswa SD, SMP dan SMA atau yang sederajat) dapat berlatih mencoba sejauhmana penguasaan materi pelajaran di sekolah.

Interaksi Komunitas

Forum komunitas ini dirancang sebagai wahana tukar informasi antar pengguna EdukasiNet. Guru, siswa, mahasiswa, orang tua, pakar/praktisi atau siapapun yang peduli dengan pendidikan dapat bergabung secara aktif di sini.  Interaksi komunitas ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sebagai berikut:

Forum

Interaksi didalam forum ini dirancang untuk komunikasi antar guru dengan guru lain, siswa dengan siswa lain, guru dengan siswa dalam bentuk diskusi atau tukar informasi, pemikiran, saran, mata pelajaran, dan lainnya.

Chatting

Fasilitas ini memungkinkan pengguna dapat melakukan dialog secara elektronik (chatting) secara langsung dengan pengguna lain di tempat yang berbeda secara real time.

Info

Fitur ini menyediakan layanan berupa artikel, news, event, dan web sekolah. secara lebih rinci, berbagai layanan dalam fitur ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Artikel

Fitur ini menyediakan layanan artikel yang lebih difokuskan pada topik pendidikan dan informasi lainnya yang terkait dengan pendidikan. Melalui fasilitas ini pengguna tidak hanya berkesempatan membacanya, tetapi juga dapat men-downloadnya secara bebas dan gratis. Pengguna juga bisa menyumbangkan buah pikiran/tulisan ini dan dikirim melalui administrator  EdukasiNet.

News

EdukasiNet menyediakaan fasilitas berita (news) yang dirancang dari, oleh, dan untuk pengguna. Oleh karena itu partisipasi pengguna sangat menentukan dinamika feature ini. 

Kalender Kegiatan (Event)

Fitur ini menyajikan informasi/berita tentang kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pengelola, ataupun oleh komunitas EdukasiNet khususnya sekolah.

Web Sekolah

EdukasiNet menyediakan fasilitas informasi tentang sekolah yang merupakan anggota (pengguna member) dari EdukasiNet.  Informasi ini tersimpan dalam aplikasi dan server EdukasiNet serta dapat diisi atau diedit oleh sekolah yang menjadi anggota.

Disamping itu, EdukasiNet juga menyediakan fasilitas/feature stpenggunar seperti download, search engine, frequently asked question (FAQ), kontak kami (contact us), polling, webstat, dan lain-lain.

Metodologi

Menurut Borg and Gall (1983), penelitian pengembangan merupakan usaha untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan.  Sementara itu Ibnu Suhadi (2001) mendefinisikan penelitian pengembangan sebagai jenis penelitian yang ditujukan untuk menghasilkan suatu produk hardware atau software melalui prosedur yang khas yang biasanya diawali dengan analisis kebutuhan, dilanjutkan dengan proses pengembangan dan diakhiri dengan evaluasi.

Mengikuti prosedur tersebut, sebagai langkah awal Pustekkom telah mengadakan analisis kebutuhan akan bahan belajar berbasis web untuk sekolah. Dari hasil analisis kebutuhan ini, maka mulai dikembangkan portal EdukasiNet yang tidak hanya berisi bahan belajar, tetapi juga menyediakan forum komunikasi dan layanan info.

Untuk pemanfaatannya di sekolah, studi kelayakan dilaksanakan terlebih dahulu guna memilih sekolah rintisan yang nantinya akan memanfaatkan portal ini. Selanjutnya pada sekolah rintisan tersebut Pustekkom mengadakan orientasi pemanfaatan EdukasiNet. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan orientasi ini, Pustekkom melaksanakan studi ke sekolah tersebut untuk mengetahui pemanfaatan EdukasiNet di sekolah serta kendala-kendala yang mungkin dihadapi dalam memanfaatkan agar dapat dicarikan solusi pemecahannya. Dari studi ini akan terjaring pula data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet di sekolah.      

Instrumen yang digunakan meliputi  kuesioner, pedoman wawancara dan survey elektronik.

Angket

Instrumen ini digunakan untuk menjaring data dari guru dan siswa tentang:

1)       Pemanfaatan fitur-fitur yang ada dalam EdukasiNet.

2)       Cara pemanfaatan bahan belajar (termasuk di dalamnya strategi, frekuensi, dan kendala).

3)       Manfaat dan keuntungan yang diperoleh guru serta siswa dalam memanfaatkan EdukasiNet.

4)       Kendala-kendala yang dihadapi guru maupun siswa dalam memanfaatkan EdukasiNet.

5)       Harapan guru dan siswa pada masa yang akan datang terhadap pemanfaatan EdukasiNet.

Pedoman Wawancara

Instrumen ini digunakan untuk menjaring data dari Kepala Sekolah/Wakasek dan staf teknis (staf laboratorium komputer) tentang:

1)       Kebijakan/komitmen sekolah dalam memanfaatkan sumber belajar (termasuk di dalamnya EdukasiNet).

2)       Manfaat dan keuntungan yang diperoleh sekolah.

3)       Kendala yang dihadapi dalam memanfaatkan EdukasiNet, disamping menyangkut masalah kebijakan, fasilitas, software, kesiapan SDM, dan kendala dari aspek teknis (dengan tenaga teknis/unit IT sebagai sumber data).

4)       Harapan sekolah pada masa yang akan datang terhadap pemanfaatan EdukasiNet.

Survey Elektronik

EdukasiNet dirancang sedemikian rupa agar dapat melakukan survey langsung secara elektronik. Dengan sistem seperti ini, perkembangan EdukasiNet dapat terpantau secara otomatis..

Studi pemanfatan EdukasiNet secara langsung ke sekolah dilakukan dengan cara petugas dari Pustekkom dengan didampingi petugas daerah mengumpulkan data dan informasi dengan menggunakan instrumen angket dan pedoman wawancara di sekolah tersebut.

 Hasil Studi Pemanfaatan EdukasiNet di Sekolah

Hasil studi pemanfaatan EdukasiNet di sekolah dapat dideskripsikan berdasarkan beberapa aspek temuan, yang meliputi: 1) perkembangan jumlah pengunjung (pengguna hit) dan anggota (member); 2) perkembangan jumlah bahan belajar; 3) topik yang paling disukai pengguna; 4) pendapat pengguna tentang EdukasiNet; 5) pemanfaatan EdukasiNet oleh Guru/Siswa; 6) pola pemanfaatan bahan belajar EdukasiNet di sekolah; dan 7) faktor-faktor pendukung dan penghambat pemanfaatan EdukasiNet di sekolah

Sampai dengan tanggal bulan Februari 2006, pengunjung EdukasiNet telah mencapai 671.591 orang. Sementara anggota terdaftar telah mencapai 6.934 orang, seperti digambarkan dalam diagram di bawah ini: 

     

Diagram Perkembangan Jumlah Pengunjung (user hit)

 Diagram Perkembangan Jumlah Anggota (Registered User)

Perkembangan Jumlah Bahan Belajar

Sampai dengan tahun 2005, jumlah bahan belajar yang terdapat dalam portal EdukasiNet berjumlah 335 judul, seperti digambarkan dalam diagram batang berikut:

 

 

Pendapat Pengguna tenang EdukasiNet

Berdasarkan hasil polling elektronik, pengguna memberikan appresiasi yang cukup positif terhadap EdukasiNet, seperti digambarkan dalam diagram pie di bawah ini: 

 

 Seperti terlihat dalam diagram di atas, pendapat pengguna tentang portal EdukasiNet sebagian besar adalah baik (37%), baik sekali (33%), cukup (20%) dan buruk (10%).

Pemanfaatan EdukasiNet oleh Guru / Siswa di Sekolah

Komitmen/kebijakan sekolah dalam memanfaatkan sumber belajar (termasuk EdukasiNet); Sekolah pada umumnya telah memanfaatkan berbagai sumber belajar antara lain media cetak, media audio, VCD pembelajaran, CD Interaktif, dan ada juga diantaranya yang telah memanfaatkan layanan internet. Namun untuk pemanfaatan EdukasiNet belum banyak diprogramkan oleh sekolah. Sekolah masih dalam tahapan baru memperkenalkan EdukasiNet kepada para guru dan siswa.

Pemanfaatan fitur-fitur EdukasiNet; Fitur yang banyak dimanfaatkan adalah bahan belajar terutama materi pokok. Fitur lainnya seperti interaksi komunitas dan info belum begitu banyak dimanfaatkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut.

Perbandingan pemanfaatan Fitur EdukasiNet

Dari perbandingan pemanfaatan fitur EdukasiNet juga nampak sekolah yang telah optimal memanfaatkan, kurang optimal, dan bahkan tidak memanfaatkan sama sekali dengan alasan tertentu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

No.

Lokasi

Keoptimalan Pemanfaatan

 

 

Optimal

Kurang

Tidak Memanfaatkan

1.

SMA Negeri 8 Pekanbaru

 

 

2.

SMA Negeri 1 Batam

 

 

3.

SMK Negeri 2 Bpenggunar Lampung

 

 

4.

SMA Muhammadiyah 1 Pontianak

 

 

5.

SMA Negeri 2 Tenggarong

 

 

6.

SMA Negeri 5 Makassar

 

 

7.

SMA Negeri 2 Ambon

 

 

8.

SMA Negeri 1 Jayapura

 

 

9.

SMA Negeri 1 Denpasar

 

 

10.

SMK Negeri 4 (Grafika) Malang

 

 

11.

SMA Negeri 5 Surabaya

 

 

12.

SMA Negeri 4 Semarang

 

 

13.

SMA Negeri 2 Purwokerto

 

 

14.

MAN 2 Ciamis

 

 

15.

SMA Negeri 2 Cirebon

 

 

16.

SMA Negeri 2 Yogyakarta

 

 

17.

SMA Negeri 1 Cipocok Jaya, Serang

 

 

Dari tabel tersebut sekolah yang memanfaatkan EdukasiNet secara optimal hanya 5 sekolah dari 17 sekolah rintisan yang dipantau, 2 sekolah tidak memanfaatkan dengan alasan teknis, dan 10 sekolah pemanfaatannya masih kurang optimal. Pemanfaatan EdukasiNet oleh sekolah juga kebanyakan masih dimanfaatkan oleh guru daripada siswa. Dari total responden guru (170 responden) baru 105 orang responden (± 62%), responden siswa hanya 61 orang responden (±45%) yang telah memanfaatkan dari total responden siswa sebanyak 136 orang.  Perbandingan guru yang memanfaatakan EdukasiNet dan perbandingan siswa yang memanfaatkan EdukasiNet dapat digambarkan dalam diagram pie seperti di bawah ini:

 

Rendahnya pemanfaatan EdukasiNet terutama oleh siswa karena kurangnya sosialisasi terhadap mereka tentang EdukasiNet. Sebagai akibat banyaknya responden siswa yang belum tahu tentang EdukasiNet, maka data tentang motivasi dan minat siswa memanfaatkan EdukasiNet belum banyak terjaring. Namun apabila dilihat dari frekuensi pemanfaatan EdukasiNet, dapat sedikit ditarik kesimpulan bahwa minat dan motivasi siswa dalam memanfaatkan EdukasiNet masih terbilang kurang.

Pola pemanfaatan bahan belajar dalam EdukasiNet (strategi dan frekuensi)

Cara pemanfaatan bahan belajar belum dijadwalkan secara khusus.  strategi yang digunakan ada yang terpisah (43%) dan terintegrasi (57%). Penerapan strategi yang terpisah antara lain kalau ada waktu/jam belajar kosong siswa diminta untuk memanfaatkan EdukasiNet di laboratorium komputer. Di samping itu, untuk bahan pengayaan siswa diminta mencari bahan berkenaan dengan materi yang sedang dipelajari di internet, salah satunya di EdukasiNet.  Frekuensi pemanfaatan dalam sebulan juga cukup rendah. Hampir seluruh responden (± 99%) memanfaatkan dalam sebulan < 5 kali. Siswa dalam memanfaatkan EdukasiNet juga apabila ada tugas dari guru.

 

 Gambar 4. Strategi Pemanfaatan EdukasiNet

Penerapan strategi yang terintegrasi antara lain dengan penugasan (sebesar 50%), presentasi dan diskusi (sebesar 17%), dan pada saat praktikum di laboratorium komputer (sebesar 33%).  Pola penugasan yaitu dengan memberikan tugas kepada siswa dimana bahannya mereka diminta untuk mencarinya di EdukasiNet. Penerapan pola presentasi dan diskusi, guru mendownload materi yang ada di EdukasiNet dan mempresentasikannya di depan siswa. Setelah itu, guru meminta siswa untuk mendiskusikan materi yang baru dipelajarinya itu. Penerapan di laboratorium komputer, pada saat praktikum mata pelajaran TI di laboratorium komputer, guru sekalian menugaskan mereka untuk membuka EdukasiNet.

         

 Gambar 5. Perbandingan pola pemanfaatan terintegrasi

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet (pendukung maupun penghambat) 

Banyak faktor yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet di sekolah, antara lain faktor lingkungan (institusi penyelenggara pendidikan dalam hal ini sekolah), faktor siswa, faktor guru, dan faktor teknologi (meliputi komputer dan perangkatnya serta jaringan internet). Faktor-faktor tersebut bisa mendukung, bisa juga menjadi penghambat pemanfaatan EdukasiNet di sekolah.

Pengaruh faktor-faktor tersebut berdasarkan hasil studi dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.       Faktor lingkungan (institusi penyelenggara pendidikan dalam hal ini sekolah)

Dari hasil studi ke sekolah rintisan, hanya 5 sekolah yang telah memanfaatkan secara optimal. Hal ini karena didukung oleh kebijakan dan komitmen dari masing-masing sekolah tersebut. Sekolah mulai memprogramkan pemanfaatan EdukasiNet sebagai salah satu sumber belajar. Sekolah mengusahakan jalinan kerjasama dengan instansi terkait agar fasilitas komputer di sekolahnya terkoneksi dengan internet.

Beberapa sekolah yang pemanfaatannya kurang optimal, karena mereka kurang mensosialisasikan pemanfaatan EdukasiNet kepada guru maupun siswa. Di samping itu sekolah masih menganggap pemanfaatan internet khususnya EdukasiNet masih dianggap barang mahal karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sementara itu pada sekolah yang tidak memanfaatkan disebabkan karena kerusakan teknis, pihak sekolah kurang mengupayakan perbaikan pada kerusakan tersebut dengan alasan kurangnya SDM yang bisa menangani tentang IT, ataupun alasan biaya perbaikan yang tinggi.

b.      Siswa

Siswa belum banyak yang memanfaatkan EdukasiNet disebabkan  karena kurangnnya sosialisasi kepada mereka tentang EdukasiNet.

c.       Guru

Guru berperanan penting dalam pemanfaatan EdukasiNet. Sebagai contoh, siswa masih belum banyak yang memanfaatkan EdukasiNet, karena kurangnya sosialisasi guru kepada siswa tentang EdukasiNet. Di samping itu kesadaran guru tentang manfaat EdukasiNet masih kurang. Hal ini kemungkinan juga masih banyak guru yang belum bisa mengoperasikan komputer apalagi internet. Bahkan dari hasil studi diketahui juga beberapa kasus di sekolah, guru-guru senior belum bisa menerima bahan belajar jenis ini. Mereka sulit menerima perubahan.

Bagi mereka yang telah memanfaatkan, karena mereka merasakan adanya manfaat dalam menggunakan EdukasiNet, antara lain:

1) memudahkan guru maupun siswa dalam mencari sumber belajar alternatif,

2) bagi siswa dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru, karena disamping disertai gambar juga ada animasi yang menarik,

3) dapat berlatih soal dengan memanfaatkan uji kompetensi,

4) cara belajar lebih efisien,

5) wawasan bertambah,

6) meringankan dalam membuat contoh soal,

7) mengetahui dan mengikuti perkembangan materi dan info-info lain yang berhubungan dengan bidang studi,

8) membantu siswa dalam mempelajari materi secara individu selain di sekolah,

9) membantu siswa melek TIK.

d. Teknologi

Selain ketiga faktor diatas, faktor teknologi juga merupakan faktor yang sangat menentukan pemanfaatan EdukasiNet di sekolah. Faktor teknologi merupakan faktor yang harus ada dengan memenuhi stpenggunar minimal yang dipersyaratkan baik berkaitan dengan peralatan, infrastruktur, pengoperasian dan perawatannya.

Beberapa sekolah yang kurang optimal dan sekolah yang tidak memanfaatkan EdukasiNet disebabkan juga oleh faktor ini. Fasilitas komputer yang terkoneksi dengan internet jumlahnya belum memadai bila dibandingkan dengan jumlah siswa maupun guru. Disamping biaya yang mahal, SDM yang menanganinya masih kurang, terutama berkaitan dengan kerusakan/gangguan pada peralatan maupun jaringan.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa dalam pemanfaatan EdukasiNet di lapangan (sekolah) ditemui beberapa kendala antara lain:

1.       akses lama, dan apabila bisa dibuka terkadang hanya muncul judulnya saja, isi tidak berhasil ditampilkan,

2.       kesulitan mengatur waktu pemanfaatan, karena jam belajar terlalu padat,

3.       biaya untuk jaringan masih mahal,

4.       jaringan sering terganggu,

5.       pada saat download materi sering tidak dapat dilakukan dengan sempurna karena ada frame-frame yang tidak berhasil diambil/dicetak,

6.       kemauan belajar guru senior untuk memanfaatkan EdukasiNet agak kurang terutama dalam menerima ilmu baru,

7.       masih ada yang belum terbiasa menggunakan internet,

8.       masih terbatasnya fasilitas komputer yang terkoneksi dengan internet di beberapa sekolah,

9.       kurangnya tenaga IT, bahkan ada yang masih tergantung teknisi dari luar, hal ini berakibat apabila terjadi kerusakan pada jaringan (seperti yang terjadi di 2 sekolah: SMAN 2 Tenggarong dan SMAN 5 Makassar), tidak cepat tertangani.

 

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapan hal, antara lain:

1.       Pemanfaatan EdukasiNet di sekolah

 

Walaupun presentasinya masih rendah (62%), guru responden telah memanfaatkan portal EdukasiNet dalam pembelajaran. Namun sebagian besar responden siswa (55%) mengaku belum memanfaatkan EdukasiNet. Rendahnya pemanfaatan EdukasiNet disebabkan oleh berbagai hal, antara lain, karena kurangnya sosialisasi.

 

2.  Pola Pemanfaatan

Pada sekolah-sekolah yang telah memanfaatkan EdukasiNet, terdapat tiga pola pemanfaatan yaitu  pola penugasan, presentasi dan diskusi, serta praktikum di laboratorium.

 

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan EdukasiNet di sekolah

Faktor-faktor pendukung dalam pemanfatan EdukasiNet antara kebijakan kepala sekolah, ketersediaan akses, antusiasme guru dan siswa, serta adanya dukungan tenaga TI di sekolah. Sedangkan kendala yang ditemukan antara lain:

a.   akses dan download materi yang lamban

d.      sering terganggunya jaringan internet,

e.      biaya jaringan internet masih relatif mahal,

f.         kurangnya tenaga IT

g.      terbatasnya fasilitas komputer di beberapa sekolah,

h.       beberapa guru ada yang masih belum terbiasa memanfaatkan internet,

i.         kurangnya sosialisasi kepada siswa tentang pemanfaatan EdukasiNet. 

 

B.      Saran

Beberapa saran yang dapat diajukan dari hasil studi untuk perbaikan dan penyempurnaan EdukasiNet pada masa yang akan datang antara lain:

1.       Bahan belajar agar dilengkapi yang meliputi semua mata pelajaran dan jenjang sekolah. Perlu ditambah juga materi untuk SMK.

2.       Tampilan utama dibuat lebih menarik.

3.       Sosialisasi tidak hanya dilakukan terhadap guru, tetapi juga kepada siswa, karena banyak siswa yang belum tahu tentang EdukasiNet. Pada saat sosialisasi terhadap guru maupun siswa perlu ditekankan pentingnya pemanfaatan EdukasiNet dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran.

4.       Akses dan proses download materi agar lebih dipermudah dan cepat.

5.       Lebih interaktif, dan bila memungkinkan menyediakan laboratorium maya sehingga siswa dapat melakukan percobaan sendiri.

6.       Perlu ditambah contoh soal-soal untuk Ujian Nasional dan SPMB berikut penyelesainnya.

7.       Untuk meningkatkan keoptimalan pemanfaatan EdukasiNet baik oleh sekolah, guru, dan siswa ada semacam take and give. Misalnya saja ada perlombaan penyusunan bahan belajar atau penulisan artikel. Bagi yang memenangkan perlombaan tersebut, selain mendapatkan insentif, bahan belajar dan artikelnya dimuat di EdukasiNet. Bisa juga sering diadakan pertemuan bagi pengguna EdukasiNet untuk mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan penyempurnaan EdukasiNet.

 

DAFTAR PUSTAKA

Borg W.R. and Gall M.D. (1983). Educational Research: An Introduction, 4 th edition. London: Longman Inc.

Ibnu Suhadi. (2001). Kebijakan Penelitian Perguruan. Malang: Lemlit UNM.

Kamarga, Hanny. (2002). Belajar Sejarah melalui e-learning; Alternatif Mengakses Sumber Informasi Kesejarahan. Jakarta: Inti Media.

Purbo, Onno W. (2002). Teknologi e-learning Berbasis PHP dan MySQL: Merencanakan dan Mengimplementasikan Sistem e-learning. Jakarta: Gramedia.

Pustekkom, Depdiknas. (2005). Buku Panduan Pemanfaatan EdukasiNet. Jakarta: Pustekkom.

Pustekkom, Depdiknas (2005). Hasil Lokakarya EdukasiNet, Bogor 23 – 25 November 2005.  

 

 

                       NASIB KORUPTOR

TERBARU

MELONGOK KIPRAH SMP NEGERI 4 BANYUWANGI

MENGGAPAI RELOKASI

 

 

            Sekitar 16 tahun yang lalu tepatnya tanggal 5 Oktober 1994 SMP Negeri 4 Banyuwangi berdiri sesuai Surat Keputusan Menteri Pendidikan Republik Indonesia  No.0259/0/1994

Tetapi  sebenarnya  SMP  Negeri  4  Banyuwangi  sudah  ada  sejak  tahun 1968  dengan nama Sekolah Kepandaian Keputrian ( SKKP ) Negeri, yang  kemudian  tahun  1993  berganti nama menjadi SMP Negeri 5  Banyuwangi, selanjutnya sejak tahun 1998 berganti nama lagi  menjadi SMP Negeri 4 Banyuwangi sampai dengan sekarang. 

SMP Negeri 4 Berdasarkan letak geografisnya merupakan  salah satu SMP Negeri yang berada  di tengah  kota  Banyuwangi, namun  karena  tempatnya yang “ Nylempit “  berada di tengah – tengah pemukiman padat penduduk dan  di dalam gang sempit, serta  lahannya  yang amat terbatas dan tidak dapat berkembang lagi, sehingga  meski berada  di tengah kota di jalan Borobudur No. 4 Banyuwangi, lokasi SMP Negeri  4  Banyuwangi  menjadi tidak strategis lagi sehingga  bukan  hal yang aneh apabila banyak orang yang tidak mengenal tempat  sekolah ini.

Mengenai murid SMP Negeri 4 Banyuwangi, berasal dari siswa lulusan SD sekitar lokasi yang dijaring dari hasil kompetisi dengan sekolah negeri lainnya. Meskipun  demikian  setiap  tahun pelajaran  baru  SMP  Negeri  selalu  menolak  murid  dalam jumlah yang tidak sedikit, karena pagu terbatas disebabkan oleh ketersediaan ruang belajar yang  terbatas pula, maka murid baru yang  diterima  cenderung  lebih sedikit  jumlahnya  dari  pada  murid  yang  ditolak  pada  saat pendaftaran. Itulah sebabnya SMP Negeri 4 Banyuwangi tidak pernah mengalami kekurangan murid baru. Mengenai kelulusan, prosentasenya dalam 3 tahun terakhir terus meningkat  yaitu tahun 2006/2007 = 96 %, tahun 2007/2008 = 97 %, dan tahun 2008/2009 = 98 %, harapannya tahun 2009/2010 = 100 %.

Sebagaimana   bunyi   tujuan   Pendidikan   Nasional   yang   berdasarkan   PP   No. 19 tahun 2005 pasal 41 ayat 12 menyatakan bahwa  setiap  satuan  pendidikan  WAJIB  memiliki prasarana  yang  meliputi  lahan, ruang kelas, ruang  pimpinan satuan pendidikan, ruang multi media, ruang perpustakaan, ruang  laboratorium, ruang bengkel, ruang produksi, ruang  kantin tempat  berolah  raga, tempat  beribadah, tepat  bermain  dan  tempat  –  tempat  lain   yang  di perlukan untuk  menunjang  proses pembelajaran yang  teratur dan  berkelanjutan, maka  SMP Negeri  4  Banyuwangi  merasa  bak  “ Pohon Bonsai “, hal  ini disebabkan bahwa lahan  SMP Negeri 4  Banyuwangi hanya 1.542 m2, pada  hal  berdasarkan  Standar  Nasional  Pendidikan luas lahan untuk SMP paling sedikit 6.000 m2

        Kepemilikan  lahan  sesempit  itu  menimbulkan  dampak  positif  dan  negatif  kepada segenap warga sekolah. Adapun  dampat  negatifnya  meliputi: lingkungan  yang sempit dan padat,  siswa   belajar   tidak  nyaman,  membaurnya  halaman   sekolah  dengan  pemukiman

penduduk  menimbulkan  benturan – benturan moral, tidak  tersedianya  lahan  kosong  maka tidak dapat menambah bangunan gedung baru yang  dibutuhkan, ditambah  lagi akses  masuk ke sekolah yang terhambat oleh adanya warga yang menggunakan jalan masuk  untuk  tempat hajatan, dan lain – lain. Sedangkan  dampak positifnya adalah : letak sekolah di tengah kota , warga  sekolah berusaha keras untuk memposisikan diri seperti sekolah negeri lainnya di kota, untuk itu 8 Standar  Pendidikan  Nasional  terus  diupayakan  pencapaiannya, dan  utamanya usaha relokasi ke tempat lain yang lebih luas, strategis dan memadai menjadi prioritas.

            Dalam rangka  RELOKASI, sejak tahun 1993 Kepala Sekolah secara estapet berusaha keras   mengajukan   permohonan, dukungan  dan  rekomendasi  kepada   pihak   Pemerintah Kabupaten  Banyuwangi  melalui  Dinas  Pendidikan  Kabupaten  Banyuwangi  pada saat itu, namun hasil yang diharapkan belum dapat diraih. Tahun 2009  semangat relokasi  kembali di gulirkan.  Setahap  demi  setahap  melalui  rapat – rapat, negoisasi – negoisasi,  musyawarah – musyawarah  dan   koordinasi – koordinasi  oleh   Kepala  Dispekdikpora   Kab.  Banyuwangi Bapak   Drs. Sulihtiyono, M.Pd  dengan   segenap  Stake  Holder   dalam  lingkungan  Pemkab Banyuwangi,  dan  utamanya  dengan  Bupati  Banyuwangi  Ibu  Ratna  Ani Lestari, SE, MM, menghasilkan  lembar  –  lembar  disposisi  yang  sangat berharga  yang  garis  besarnya  berisi

pernyataan “ Setuju merelokasi SMP Negeri 4 Banyuwangi “.

            Memang  layak  kami segenap keluarga besar  SMP  Negeri  4  Banyuwangi  bersyukur

kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dan berterima kasih kepada Ibu Ratna Ani Lestari, SE, MM

dan   Bapak   Drs. Sulihtiyono, M.Pd   yang   telah  merespon  perjuangan  SMP  Negeri 4  Banyuwangi meraih relokasi. Harapan  segenap  warga sekolah, relokasi  yang belum  di genggaman tidak “ mandeg ”, tetapi meski  perlahan namun pasti dapat kami nikmati.

            Dimasa mendatang segenap warga sekolah semakin percaya diri dan optimis, didukung tempat  baru  yang  strategis  dan  dilengkapi  dengan  sarana  prasarana  yang memadai, maka perjuangan untuk meraih 8 standar Pendidikan Nasional dirasa dapat tercapai, daya  tampung siswa dapat ditingkatkan sehingga ikut mendongkrak perolehan angka APK Kabupaten Banyuwangi, status sekolah  dari  Potensial  dapat  ditingkatkan menjadi  Sekolah  Standar  Nasional ( SSN ).

 

                                                                                                        

 

JALAN SEHAT DIES NATALIS KE-16

Minggu, Tanggal 4 Oktober 2009 telah digelar acara Jalan Sehat berhadiah di Taman Blambangan Banyuwangi dalam rangka Dies Natalis SMPN 4 Banyuwangi. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Sekolah dengan Komite dan Dealer Yamaha Budi Jaya Motor. Dan Tak ketinggalan Pula Pemkab Banyuwangi yang telah membantu pelaksanaannya hingga berjalan dengan lancar. Terimakasih pula Buat Polres Banyuwangi, DKP Banyuwangi, dan Dispendikpora pada Khususnya. Terima kasih semuanya

PEMBEKALAN LESSON STUDY DI BATU - MALANG

5 orang guru ( SMPN 4 Banyuwangi ) bersama 1 orang Pengawas telah mengikuti Pembekalan Lesson Study selama 4 hari di Kota Batu - Malang. Kegiatan Ini terselenggara berkat kerjasama LPMP jawa Timur dengan JICA Jepang.

Kegiatan ini tiada lain untuk meningkatkan profesionalisme Guru dan prestasi siswa. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Foto terkait bisa dilihat di Galery foto

PROGRAM

LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH

SMPN 4 BANYUWANGI

SEMESTER GENAP KELAS VII DAN KELAS VIII

TAHUN PELAJARAN 2010 – 2010

 

I.  Kelompok Lesson Study

No

Mata Pelajaran

Guru Model

1

IPA

  1. Suti Widyastuti, S.Pd
  2. Drs. Nastiti Tri Sukmadi

2

Matematika

  1. Drs. Bakhtiar Yudhiestyo Widodo
  2. Sofyan Hadi, S.Pd

3

Bahasa Inggris

  1. Rahayu Sumardilah
  2. Tri Wahyuni, S.Pd
  3. Hardi Saptono, S.Pd

4

 IPS

  1. Wiwik Susilo, S.Pd, M.Pd
  2. Drs. Chairil Anwar
  3. Ely Kuswati, S.Pd

title

DAMPAK POSITIF PELAKSANAAN LESSON STUDY

1.       BAGI GURU

Ø      Guru lebih terbuka

Ø       Mampu berinovasi dan kreatif

Ø       Kemampuan merancang RPP dan LKS meningkat

Ø       Open Class menjadi biasa

Ø       Kemampuan mengamati siswa meningkat

Ø       Kompetensi terhadap materi meningkat

Ø       Kemampuan menulis meningkat

Ø       Peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat

Ø       Santun dalam mengkritisi teman sejawat

2.       BAGI SISWA

Ø      Kemampuan (diskusi, bertanya, menjawab) meningkat

Ø       Kreatifitas tumbuh

Ø       Terpenuhi haknya untuk dibimbing

Ø       Terpenuhi haknya untuk belajar

Ø       Terbiasa dengan beda pendapat

Ø       Terbiasa dengan presentasi

Ø       Terbiasa diamati guru lain dan tamu

 

3.       BAGI KEPALA SEKOLAH

Ø      Lebih mengenal karakter dan kompetensi guru

Ø       Lebih dekat dengan guru

Ø       Komunikasi dengan bawahan meningkat

Ø       Lebih mengenal siswa

Ø       Memberi contoh langsung dengan membuka kelas

Ø       Terbantu dalam supervisi kelas